Firman
Alloh:
إِنَّ عِدَّةَ
الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ
الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu
Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.[1] Itulah (ketetapan)
agama yang lurus” (QS. At Taubah: 36)
Keutamaan bulan dalam kalender hijriyah itu bertingkat-tingkat,
begitu juga hari-harinya. Misalnya bulan Romadhon lebih utama dari semua bulan,
hari Jum'at lebih utama dari semua hari, malam Lailatul Qodar lebih utama dari
semua malam dan lain sebagainya.
Namun, harus kita fahami bersama bahwa timbangan keutamaan
tersebut hanyalah syari'at, yakni Al-Qur'an dan hadits yang shohih, bukan
hadits-hadits dho'if dan maudhu' (lemah dan palsu). Diantara bulan Islam yang
ditetapkan kemuliaannya dalam Al-Qur'an dan sunnah adalah bulan Rojab. Namun
sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat-riwayat yang dho'if dan palsu
seputar bulan Rojab serta amalan-amalan khusus di bulan Rojab di tengah
masyarakat kita, sehingga digunakan senjata oleh para pecandu bid'ah dalam
mempromosikan kebid'ahan-kebid'ahan ala jahiliyyah di muka bumi ini. Dari
sinilah, terasa pentingnya penjelasan secara ringkas tentang pembahasan seputar
bulan Rojab dan amalan-amalan manusia yang menodainya dengan riwayat-riwayat
yang lemah dan palsu.
Rojab, Definisi
dan Keutamaannya
Rojab secara bahasa diambil dari kata "Rojaba ar-rajulu
rajaban", artinya mengagungkan dan memuliakan. Rojab adalah sebuah bulan.
Dinamakan dengan Rojab dikarenakan mereka (jahiliyah) dulu sangat
mengagungkannya pada masa jahiliyah yaitu dengan tidak menghalalkan perang di
bulan tersebut. (Qomus Muhith dan Lisanul Arob)
Tentang keutamaannya, Alloh telah berfirman,
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas
bulan, dalam ketetapan Alloh Ta'ala waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di
antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka
janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.
(QS At-Taubah: 36).
Menurut at Thobari: bahwa begitu mulianya bulan
rojab, sehingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia
tidak akan menyerangnya.
Nabi j bersabda,
الزَّمَانُ
قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ
اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ
وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya tatkala
Alloh Ta'ala menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan
diantaranya terdapat empat bulan harom, tiga bulan berurutan yaitu Dzulqo'dah,
Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab Mudhor yang terletak antara Jumadil
(akhir) dan Sya'ban”. (HR. Bukhori dari Abu Bakroh)
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa bulan Rojab sangat
diagungkan oleh manusia pada masa jahiliyah adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah
dalam Al-Mushonnaf dari Khorosyah bin Hurr, ia berkata,
"Saya melihat Umar memukul
tangan-tangan manusia pada bulan Rojab agar mereka meletakkan tangan mereka di
piring, kemudian beliau (Umar) mengatakan, Makanlah oleh kalian, karena
sesungguhnya Rojab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang Jahiliyah".
(iMajmu' fatawa-ibnu Taimiyah dan dishohihkan oleh Albani)
Riwayat Seputar
Rajab
Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam (Tabyin 'Ajab
Bima Waroda Fi Rojab), berkata:
Bahwa tidak ada hadits shohih yang dapat dijadikan hujjah seputar
amalan khusus di bulan Rojab, baik puasa maupun sholat malam dan sejenisnya. dan
Hadits-hadits yang datang seputar keutamaan Rojab atau puasa di bulan Rojab
terbagi menjadi dua, dho'if (lemah) dan maudhu' (palsu). Beliau mendapatkan 11
hadits berderajat dho'if dan 21 hadits berderajat maudhu'.
Berikut sebagian hadits-hadits dho'if (lemah) dan maudhu' (palsu) tersebut:
وَمَنْ
صَامَ يَوْمَ سَبْعَةٍ وَعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبٍ؛ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ سِتِّيْنَ شَهْراً،
وَهُوَ أَوَّلُ يَوْمٍ نَزَلَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍj
“Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 27 Rojab, maka ditulis
baginya puasa 60 bulan. Karena ia adalah hari pertama dimana Jibril turun pada
Muhammad j dengan risalahnya"
(Dikeluarkan oleh Al khotib, at Tarikh 8/290, Dlo'if) (lihat silsilah hadits
dlo’if, 10/594)
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نهَرْاً يُقَالُ
لَهُ :رَجَبٌ
, مَاؤُهُ أَشَدُّ بيَاَضاً مِنَ اللَّبَنِ ,وَ أَحْلىَ
مِنَ الْعَسَلِ ,مَنْ صَامَ
مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِدًا ,سَقاَهُ
اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ
"Sesungguhnya di Surga ada sebuah sungai yang dinamakan
"Rojab", warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari
madu. Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rojab, niscaya Allah akan
memberinya minum dari sungai tersebut. (HR. Abu Muhammad Al kholal, Dho'if)(lihat
silsilah hadits dlo’if, 4/371)
رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ ، وَشَعْباَنُ شَهْرِيْ
، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي
"Bulan Rojab adalah milik Alloh, Sya'ban adalah bulanku dan
Romadhon adalah bulan umatku. (Maudhu' /palsu) (sislsilah
hadits dlo’if, 3/390)
رَجَبٌ شَهْرٌ عَظِيْمٌ ، يُضَاعِفُ
اللهُ فِيْهِ اْلحَسَنَاتِ ؛ فَمَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ ؛ فَكَأَنَّماَ صَامَ
سَنَةً ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ ؛ غُلِّقَتْ عَنْهُ سَبْعَةُ أَبْوَابِ
جَهَنَّمَ ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ ثمَاَنِيَةَ أَيَّامٍ ؛ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ
أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ؛ لَمْ يَسْأَلَ
اللهَ شَيْئاً إِلاَّ أعْطَاهُ إِيَّاهُ ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْماً
؛ نَادَى مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ : قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا مَضَى ...
Rojab adalah bulan agung, di
dalamnya Alloh Ta'ala melipatkan beberapa kebaikan, barang siapa yang berpuasa
1 hari bulan Rojab, maka ia seperti puasa setahun. Dan siapa yang berpuasa 7
hari, maka ditutuplah 7 pintu neraka. Dan siapa yang berpuasa 8 hari bulan
Rojab maka dibukakanlah 8 pintu surga. Dan siapa yang berpuasa 10 hari, maka ia
tidak meminta pada Alloh Ta'ala kecuali Ia memberinya. Dan siapa yang berpuasa
15 hari, maka malaikat menyeru di langit: Ta'ala mengampuni dosa-dosa mu yang
telah lalu …………. (Maudhu')(lih. Silsilah hadits dlo’if, 11/691)
"Rasulullah apabila memasuki bulan
Rojab, beliau berdo'a, "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rojab dan
Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan Romadhon." (dho'if)
Keutamaan bulan Rojab dibandingkan semua bulan seperti keutamaan
Al-Qur'an terhadap semua dzikir. (Hadits maudhu' / palsu)
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Rojab dan sholat empat
rokaat pada bulan tersebut,... niscaya dia tidak menginggal dunia hingga
melihat tempat tinggalnya di Surga, atau diperlihatkan untuknya "
(Hadits maudhu' / palsu)
Sholat Roghoib
Sholat Roghoib adalah sholat yang dilaksanakan pada malam Jum'at
pertama bulan Rojab, tepatnya antara sholat maghrib dan isya' dengan didahului
puasa hari Kamis, dikerjakan dengan dua belas rakaat. Pada setiap rakaat
membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qodar tiga kali dan surat Al-Ikhlas
dua belas kali... dan seterusnya. Sifat sholat seperti di atas tadi didukung
oleh sebuah riwayat oleh sahabat Anas bin Malik yang dibawakan secara panjang
oleh Imam Ghozali dalam Ihya' Ulumuddin dan beliau menamainya dengan
"Sholat Rojab" seraya berkata "ini adalah sholat yang
disunnahkan"!!!
Demikianlah perkataannya -semoga Allah mengampuninya- padahal para
pakar ahli hadits telah bersepakat dalam satu kata bahwa hadits-hadits tentang
"Sholat Roghoib" adalah Maudhu' (palsu). Berikut ini, nukilan
sebagian komentar ulama' ahli hadits tentangnya:
Imam Ibnu Jauzy berkata:
“Hadits sholat Roghoib adalah palsu, didustakan atas nama
Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa hadits ini dibikin oleh seseorang yang bernama
Ibnu Juhaim. Dan saya mendengar syaikh (guru) kami Abdul Wahhab Al-Hafizh
mengatakan, Para perowinya majhul (tidak dikenal), saya telah memeriksa seluruhnya
dalam setiap kitab, namun saya tidak mendapatkannya”. (Maudhu'at)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
Sholat Roghoib adalah bid'ah menurut kesepakatan para imam agama, tidak
disunnahkan oleh Rasulullah, tidak pula oleh seorangpun dari khalifahnya serta
tidak dianggap baik oleh para ulama panutan, seperti Imam Malik, Syafi'i,
Ahmad, Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Auza'i, Laits dan sebagainya. Adapun
hadits tentang sholat Roghoib tersebut adalah hadits dusta, menurut kesepakatan
para pakar ahli hadits. .
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
“Demikian pula hadits-hadits tentang sholat Roghoib pada awal
malam Jum'at bulan Rojab, seluruhnya dusta, dibuat-buat atas nama Rasulullah.
Al-Hafidz Al-'Iroqi berkata: "hadits maudhu'
(palsu)."
Imam Asy-Syaukani berkata:
“Maudhu', karena para perowinya majhul. Dan inilah sholat
Roghoib yang masyhur, para pakar telah bersepakat bahwa hadits tersebut maudhu',
kepalsuannya tidak diragukan lagi, begitu juga ulma'-ulama' sunnah yang lain.”
Apabila telah jelas derajat Sholat Roghoib sebagaimana di atas,
maka mengerjakannya merupakan kebid'ahan dalam agama, yang harus diwaspadai
oleh setiap insan yang hendak meraih kebahagiaan. Untuk menguatkan kebid'ahan
sholat Roghoib ini, penulis nukilkan perkataan dua imam masyhur di kalangan madzhab
Syafi'i yaitu Imam Nawawi dan Imam Suyuthi - semoga Allah merahmati
keduanya.
Imam Nawawi berkata:
“Sholat yang dikenal dengan Sholat Roghoib, dua belas rakaat
antara Maghrib dan Isya' awal malam Jum'at bulan Rojab dan sholat Nisfu Sya'ban
seratus rakaat, termasuk bid'ah mungkar dan jelek. Janganlah tertipu dengan
disebutkannya kedua sholat tersebut dalam Qutul Qulub dan Ihya' Ulumuddin
(karya Al-Ghozali) dan jangan tertipu pula oleh hadits yang termaktub pada
kedua kitab tersebut. Sebab, seluruhnya merupakan kebatilan.”
(Majmu' Syarh Muhadzab 3 / 549)
Imam Suyuthi berkata:
Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa mengagungkan hari dan malam
ini (Rojab) merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam, yang bermula
setelah 400H. Memang ada riwayat yang mendukungnya, namun haditsnya maudhu' (palsu)
dengan kesepakatan para ulama', riwayat tersebut intinya tentang keutamaan
puasa dan sholat pada bulan Rojab yang dinamai dengan Sholat Roghoib. Menurut
para pakar, dilarang mengkhususkan bulan ini (Rojab) dengan puasa dan sholat
bid'ah (sholat Roghoib) serta segala jenis pengagungan terhadap bulan ini
seperti membuat makanan, menampakkan perhiasan dan sejenisnya. Supaya bulan ini
tidak ada bedanya seperti bulan-bulan lainnya.”
(Al-Amru Bil Ittiba' hal. 166 – 167)
Kesimpulannya : riwayat tentang
Sholat Roghoib adalah maudhu' (palsu) dengan kesepakatan para pakar ahli
hadits. Oleh karena itu, beribadah dengan hadits palsu merupakan kebid'ahan
dalam agama, apalagi sholat Roghoib ini baru dikenal mulai tahun 448H.
perselisihan waktu
terjadinya Isra’ Mi’raj
Setiap tanggal 27 Rojab, perayaan Isro' Mi'roj sudah merupakan
sesuatu yang tidak dapat terlupakan di masyarakat kita sekarang. Bahkan, hari
tersebut menjadi hari libur nasional. Oleh karena itu, mari kita mempelajari
masalah ini dari dua tinjauan. 1. Tinjauan Sejarah Munculnya Perayaan Isro'
Mi'roj Dalam tinjauan sejarah waktu terjadinya Isro' Mi'roj masih diperdebatkan
oleh para ulama. Jangankan tanggalnya, bulannya saja masih diperselisihkan
hingga kini. Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani memaparkan perselisihan tersebut
dalam kitabnya, Fathul Bari (7 / 203) hingga mencapai lebih dari sepuluh
pendapat!
Ada yang berpendapat bahwa Isro' Mi'roj terjadi pada bulan
Romadhon, Syawal, Robi'ul Awal, Robi'ul Akhir ... dan seterusnya.
Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan dari Zuhri
dan 'Urwah: “Isro' Mi'roj terjadi setahun sebelum keluarnya Nabi ke kota Madinah
yaitu bulan Robi'ul Awal” (al bidayah wan nihayah),
Al Imam As Suddi: “Waktunya adalah enam belas
bulan sebelum hijroh, yaitu bulan Dzulqo'dah”.
Al-Hafidz Abdul Ghoni bin Surur Al-Maqdisi
membawakan dalam sirohnya hadits yang tidak shohih sanadnya tentang waktu isro'
mi'roj pada tanggal 27 Rojab.
Dan sebagian manusia menyangka bahwa isro' mi'roj terjadi pada
hari Jum'at pertama bulan Rojab, yaitu malam Roghoib yang ditunaikan pada waktu
tersebut sebuah sholat masyhur, tetapi tidak ada asalnya.
Ibnu Taimiyah berkata, -sebagaimana dinukil
oleh muridnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah-:
Tidak ada dalil shohih yang menetapkan bulan maupun tanggal kapan
terjadi isro' mi'roj, seluruh nukilan tersebut munqothi' (terputus) dan
berbeda-beda. Bahkan Imam Abu Syamah menegaskan, Sebagian tukang cerita
menyebutkan bahwa Isro' Mi'roj terjadi pada bulan Rojab, hal itu menurut ahli
hadits merupakan kedustaan yang amat nyata. Dari perkataan para ulama' di atas
dapat disimpulkan bahwa Isro' Mi'roj merupakan malam yang agung, namun tidak
diketahui waktunya.
Sesungguhnya ada sebagian ibadah yang berkaitan erat dengan waktu,
kita tidak boleh melangkahinya seperti sholat lima waktu. Ada sebagian ibadah lainnya,
Allah menyembunyikan waktunya dan memerintahkan kepada kita untuk berlomba- lomba
mencarinya seperti malam Lailatul Qodar. Dan sebagian waktu yang mulia derajatnya
di sisi Allah dan tidak ada ibadah khusus (seperti sholat dan puasa) untuknya,
oleh karena itu Allah menyembunyikan waktunya, seperti malam Isro' Mi'roj.
Tinjauan Syari'at
tentang perayaan isro’ mi’roj
Ditinjau dari segi syari'at, kalau toh memang benar bahwa Isro'
Mi'roj terjadi pada 27 Rojab, namun kalau kemudian waktu tersebut dijadikan
sebagai malam perayaan dengan pembacaan kisah-kisah palsu tentang Isro' Mi'roj,
maka seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu bahwa hal
tersebut termasuk perkara bid'ah dalam Islam. Sebab, perayaan tersebut tidaklah
dikenal di masa sahabat, tabi'in dan para pengikut setia mereka. Islam hanya
memiliki tiga hari raya; yakni Idhul Fitri, Idhul Adha setiap satu tahun, dan
hari Jum'at setiap satu minggu. Selain tiga ini, tidak termasuk agama Islam
secuilpun. (Tamassuk bis Sunnah Nabawiyah
oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin)
Ibnu Hajj berkata,
"Termasuk perkara
bid'ah yang diada-adakan oleh orang-orang pada malam 27 Rojab adalah ."
Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh bid'ah pada malam tersebut seperti
kumpul-kumpul di masjid, ikhthilath (campur baur antara laki-laki dengan
perempuan), menyalakan lilin dan pelita; beliau juga menyebutkan perayaan malam
Isro' Mi'roj termasuk perayaan yang dinasabkan kepada agama, padahal bukan
darinya. 17
Ibnu Nuhas berkata,
Sesungguhnya perayaan malam ini (Isro' Mi'roj) merupakan
kebid'ahan besar dalam agama yang diada-adakan oleh saudara-saudara syetan.
(Tanbihul ghjofilin).
Muhammad bin Ahmad As Syafi'i (As-Sunan wal Mubtada'at), menegaskan,
Pembacaan kisah Mi'roj dan perayaan malam 27 Rojab merupakan perkara bid'ah...
Dan kisah Mi'roj yang disandarkan kepada Ibnu Abbas, seluruhnya adalah
kebatilan dan kesesatan. Tidak ada yang shohih kecuali beberapa huruf saja. Demikian
pula dengan kisah Ibnu Shulthon, seorang penghambur yang tidak pernah sholat
kecuali di bulan Rojab saja, namun tatkala hendak meninggal dunia, terlihat
padanya tanda-tanda kebaikan sehingga ketika Rasulullah ditanya perihalnya,
beliau menjawab,
Sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan berdo'a pada bulan
Rojab. Semua ini merupakan kedustaan dan kebohongan. haram hukumnya membacakan dan
melariskan riwayatnya kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. Sungguh sangat
mengherankan kami, tatkala para jebolan Azhar membacakan kisah-kisah palsu
seperti ini kepada manusia.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,
“Malam Isro' Mi'roj tidak diketahui waktu terjadinya. Karena
seluruh riwayat tentangnya tidak ada yang shohih menurut para pakar ilmu hadits.
Di sisi Alloh-lah hikmah dibalik semua ini.Kalaulah memang diketahui waktunya,
tetapi tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkannya dengan ibadah dan
perayaan. Karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Seandainya
disyari'atkan, pastilah Nabi menjelaskannya kepada umat, baik dengan perkataan
maupun dengan perbuatan... “
Kemudian beliau berkata:,
“Dengan penjelasan para ulama beserta dalil-dalil dari Al-Qur'an
dan hadits di atas sudah cukup bagi para pencari kebenaran untuk mengingkari
bid'ah malam Isro' Mi'roj yang memang bukan dari Islam secuilpun... Sungguh
amat menyedihkan, tatkala bid'ah ini meruyak segala penjuru negeri Islam,
sehingga diyakini oleh sebagian orang bahwa perayaan tersebut merupakan Agama. Kita
berdo'a kepada Alloh agar memperbaiki keadaan kaum muslimin semuanya dan
memberi karunia kepada mereka berupa ilmu agama dan taufiq serta istiqomah di
atas kebenaran.” (Syaikh bin Baz – at Tahdzir minalm
bida')
Mengkhususkan
Puasa di Bulan Rojab
Termasuk perkara bid'ah di bulan Rojab adalah mengkhususkan puasa
bulan Rojab, karena tidak ada hadits shohih yang mendukungnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Adapun mengkhususkan puasa di bulan Rojab, maka seluruh haditsnya
adalah lemah dan palsu, ahli ilmu tidak menjadikannya sebagai sandaran sedikitpun.
Imam Suyuthi berkata:
“Mengkhususkan bulan Rojab dengan puasa adalah dibenci. Syafi'i
berkata, Aku membenci bila seseorang menyempurnakan puasa sebulan penuh seperti
puasa Romadhon, dimikian pula mengkhususkan suatu hari di hari-hari lainnya”.
Imam Abdullah Al-Anshori -seorang ulama dari
Khurosan- tidak berpuasa bulan Rojab bahkan melarangnya seraya berkata:
“Tidak satu hadits pun shohih dari Rosululloh tentang keutamaan bulan
Rojab dan puasa Rojab. Bila dikatakan, Bukankah puasa termasuk ibadah dan
kebaikan?" Jawabnya, "Benar. Tapi ibadah harus berdasarkan contoh
dari Rosululloh. Apabila diketahui hadits-nya dusta, berarti tidak termasuk
syari'at." Bulan Rojab
diagung-agungkan oleh Bani Mudhor di masa jahiliyah sebagaimana dikatakan Umar
bin Khoththob. Bahkan beliau memukul tangan orang-orang yang berpuasa di bulan
Rojab.”
Ibnu Abbas apabila melihat manusia
berpuasa Rojab, beliau membencinya seraya berkata, "Berbukalah kalian,
sesungguhnya Rojab adalah bulan yang diagungkan oleh ahli jahiliyah." 21 Imam
Thurthusi mengatakan -setelah membawakan atsar-atsar di atas, Atsar-atsar ini
menunjukkan bahwa pengagungan manusia terhadap Rojab sekarang ini, merupakan
sisa-sisa peninggalan zaman jahiliyah dahulu.
Kesimpulan: tidak boleh mengkhususkan
puasa di bulan Rojab sebagai pengagungan terhadapnya. Sedangkan apabila
seseorang telah terbiasa / rutin berpuasa sunnah (puasa Daud atau Senin Kamis
misalnya, baik di bulan Rojab maupun tidak) dan tidak beranggapan sebagaimana
anggapan salah masyarakat awam sekitarnya, maka ini diperbolehkan.
Sembelihan Rojab
Termasuk adat Jahiliyah dahulu adalah menyembelih hewan di bulan
Rojab sebagai pengagungan terhadapnya, disebabkan Rojab merupakan awal bulan
harom sebagaimana dikatakan Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya (4 / 496). Tatkala
Islam datang, secara tegas telah membatalkan acara sembelihan Rojab serta mengharomkannya
sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rosulullah, diantaranya,
لَا فَرَعَ
وَلَا عَتِيرَةَ
"Tidak ada Faro' dan 'Athiroh."
(HR. Bukhori dari Abu Huroiroh)
نَهَى رَسُولُ
اللَّهِ j
عَنِ الْفَرَعِ وَالْعَتِيرَةِ
Dalam riwayat lainnya dengan lafadz "larangan",
Rosululloh j melarang dari Faro' dan 'Athiroh.
(HR. Nasa'I dari Abu Huroiroh)
لَا عَتِيرَةَ
فِي الْإِسْلَامِ وَلَا فَرَعَ
"Tidak ada 'Athiroh dan Faro' dalam Islam." (HR. Ahmad
dari Abu Huroiroh )
Keterangan:
Athiroh adalah kambing sembelihan yang
biasa dilakukan di masa jahiliyah pada bulan Rojab untuk taqorrub (mendekatkan
diri) kepada patung-patung mereka. (Abu Ubaid)
Faro' adalah unta yang disembelih oleh
orang-orang jahiliyah yang diperuntukkan bagi tuhan-tuhan, kemudian mereka
makan, lalu kulitnya dilemparkan ke pohon. (Abu Daud)
--- Wallohu al-Musta'an ----